Pages

Minggu, 03 November 2013

Cara Alami Atasi Insomnia Dengan Ramuan Putri Malu


Tak banyak yang tahu, bahwa tanaman unik dengan dedaunan yang kerap menutup ketika kita menyentuhnya ini, ternyata ampuh atasi insomnia. 

Ya, semua bisa menebak apa nama tanaman ini, yakni Putri malu (Mimosa pudica).

Tanaman ini dapat dengan mudah ditemukan di pinggir jalan dan tanah lapang. Batang tanaman ini bulat, berbulu, dan berduri. Sedangkan, daunnya berbentuk lonjong dengan ujung yang lancip, yang tersusun secara majemuk.

Lantas, bagaimana tanaman ini bisa membantu mengatasi insomnia? Diduga, kandungan melatonin dalam tanaman inilah yang mampu memberikan efek sedatif (penenang), dimana keberadaannya dalam tubuh mampu memberikan efek relaksasi dan memicu rasa kantuk secara alami guna mengingatkan tubuh untuk beristirahat.

Untuk membuat obat insomnia, bagian yang digunakan pada tanaman Putri malu adalah daunnya. Bagaimana cara membuat obat tidur alami ini? Berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan :
  • Siapkan 15-60 gram daun Putri malu segar, 15 gram Daun sawi langit dan 30 gram Daun calincing.
  • Rebus ketiga bahan dengan dua gelas air.
  • Tunggu hingga air berkurang menjadi setengahnya.
  • Dinginkan, lalu saring air rebusan tersebut.
  • Minum airnya satu gelas setiap hari sebelum tidur.

Berdasarkan pengalaman empiris masyarakat, ramuan obat tidur alami ini akan menunjukkan reaksinya setelah 10-15 menit dikonsumsi. Maksimal, dalam 1 jam saja, Anda sudah dapat tertidur lelap.

Namun, perlu diperhatikan bahwa konsumsi ramuan Putri malu secara berlebihan dapat menyebabkan keracunan dan muntah-muntah. Sedangkan, pada ibu hamil, dapat menyebabkan kematian janin.

Brokoli Sayuran Sehat Untuk Penderita Diabetes

Meskipun tidak dapat sembuh total, penderita diabetes dapat mengendalikan keluhan dan dampak dari penyakit yang dikenal dengan istilah kencing manis ini, terutama melalui pola hidup yang sehat, salah satunya dengan menjaga asupan nutrisi yang seimbang. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kebanyakan penderita diabetes.


Bagi mereka, makan tidak lagi menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Namun, tahukah Anda, bahwa selain terkenal dengan sifat antikanker yang dimilikinya, Brokoli ternyata juga bermanfaat untuk para penderita diabetes. Mari kita kenali manfaat luar biasanya dalam hal ini.

Di dalam sayuran Brokoli terdapat kandungan sulforaphane yang diketahui dapat memperbarui produksi enzim dan melindungi pembuluh darah serta mencegah kerusakan sel akibat tingginya kadar gula dalam darah.

Selain itu, Brokoli juga mengandung kromium, dimana peningkatan senyawa ini dalam tubuh akan mendorong peningkatan sensitivitas insulin dalam tubuh yang bermanfaat dalam pengendalian glukosa dan faktor-faktor terkait lainnya yang menyertai timbulnya diabetes.

Untuk dapat menikmati sepenuhnya manfaat Brokoli, Anda perlu memerhatikan cara penyimpanan dan pengolahannya. Jangan sekali-kali menyimpan Brokoli dalam freezer karena segera setelah dikeluarkan dari freezer, kandungan gizi di dalamnya akan rusak.

Sedangkan, untuk mengolahnya, bisa dilakukan dengan cara mengukus, menumis, atau memanggangnya dalam microwave dalam waktu yang singkat.

Mengapa sebaiknya tidak merebus Brokoli? Karena cara tersebut akan menyebabkan hilangnya kandungan gizi Brokoli sebanyak hampir 70 persen.

Memanggangnya dalam Microwave merupakan cara terbaik dalam mengolah Brokoli. Dengan cara ini, Brokoli akan memanfaatkan air yang terkandung dalam dirinya untuk proses pengolahan sehingga, diperkirakan bahwa lebih dari 90 persen nutrisi dalam Brokoli tetap terjaga dengan proses ini.

Cara lain, Brokoli dapat dibuat menjadi jus baik secara tunggal, maupun dikombinasikan dengan aneka buah lainnya seperti Apel dan Wortel.

Kombinasi aneka sayur maupun buah dalam pengolahan Brokoli tersebut mungkin dapat menjadi solusi praktis bagi mereka yang kurang menyukai Brokoli.

Ya, tidak ada salahnya Anda memasukan sayuran hijau yang satu ini sebagai salah satu menu harian Anda. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika Anda mengonsumsi Brokoli secara rutin.
Selain harganya murah, tentu saja tidak ada efek samping apapun jika sayuran ini rutin dikonsumsi. Berbagai kandungan zat gizi di dalam sayuran hijau ini sangat bermanfaat untuk menunjang kebutuhan gizi tubuh secara alami, termasuk dalam pengendalian penyakit diabetes.

Cefadroxil 500 mg


Indikasi:
Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti: 

  • Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media.
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak. 
  • Infeksi saluran kemih dan kelamin.
  • Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.
Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap sefalosporin.

Komposisi: 
Cefadroxil 500, tiap kapsul mengandung cefadroxil monohydrate setara dengan cefadroxil 500 mg. 

Cara Kerja: 
Cefadroxil adalah antibiotika semisintetik golongan sefalosforin untuk pemakaian oral. 
Cefadroxil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus beta-hemolytic, Staphylococcus aureus (termasuk penghasil enzim penisilinase), Streptococcus pneumoniae, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Klebsiella sp, Moraxella catarrhalis. 

Dosis: 
Dewasa: 
  1. Infeksi saluran kemih: 
  • Infeksi saluran kemih bagian bawah, seperti sistitis : 1 – 2 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi, 
  • Infeksi saluran kemih lainnya 2 g sehari dalam dosis terbagi. 
     2.  Infeksi kulit dan jaringan lunak: 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi. 

     3.  Infeksi saluran pernafasan: 
  • Infeksi ringan, dosis lazim 1 gram sehari dalam dua dosis terbagi. 
  • Infeksi sedang sampai berat, 1 – 2 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Untuk faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolytic : 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi, pengobatan diberikan minimal selama 10 hari. 
Anak-anak: 

Infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dua dosis terbagi. 
Faringitis, tonsilitis, impetigo : 25 – 50 mg/kg BB dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi.
Untuk infeksi yang disebabkan Streptococcus beta-hemolytic, pengobatan diberikan minimal selama 10 hari. 

Efek Samping: 
Gangguan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan gejala kolitis pseudomembran. 
Reaksi hipersensitif, seperti ruam kulit, gatal-gatal dan reaksi anafilaksis. 
Efek samping lain seperti vaginitis, neutropenia dan peningkatan transaminase. 

Interaksi Obat: 
Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat meningkatkan toksisitas sefalosporin terhadap ginjal. 
Probenesid menghambat sekresi sefalosporin sehingga memperpanjang dan meningkatkan konsentrasi obat dalam tubuh. 
Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like reactions, jika diberikan 48 – 72 jam setelah pemberian sefalosporin. 

Cara Rekonstitusi Suspensi: 
Tambahkan 45 ml air minum, kocok sampai suspensi homogen. 
Setelah 7 hari suspensi yang sudah direkonstitusi tidak boleh digunakan lagi. 

Cara Penyimpanan: 
Simpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kamar (15 - 30ÂșC). 

Metoclopramide HCl



Indikasi:
  • Untuk meringankan (mengurangi simptom diabetik gastroparesis akut dan yang kambuh kembali).
  • Juga digunakan untuk menanggulangi mual, muntah metabolik karena obat sesudah operasi. 
  • Rasa terbakar yang berhubungan dengan refluks esofagitis. 
  • Tidak untuk mencegah motion sickness.


Kontra Indikasi:
  • Penderita gastrointestinal hemorrhage, obstruksi mekanik atau perforasi. 
  • Penderita pheochromocytoma. 
  • Penderita yang sensitif terhadap obat ini. 
  • Penderita epilepsi atau pasien yang menerima obat-obat yang dapat menyebabkan reaksi ekstrapiramidal.
Komposisi :
  • Metoclopramide HCl 5 mg 

          Tiap tablet mengandung: 
          Metoklopramida HCl 5 mg 
  • Metoclopramide HCL 10 Mg 

          Tiap tablet mengandung: 
          Metoklopramida HCl 10 mg 

Farmakologi:

Sabtu, 02 November 2013

Amoxicillin

Indikasi:
Amoksisilin efektif terhadap penyakit: 
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, langritis. 
Infeksi saluran cerna: disentri basiler. 
Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis. 
Infeksi lain: septikemia, endokarditis.

Kontra Indikasi:
Pasien dengan reaksi alergi terhadap penisilin.

Komposisi: 
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilin anhidrat 125 mg. 
Tiap kapsul mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilin anhidrat 250 mg. 
Tiap kaptab mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilin anhidrat 500 mg. 

Cara Kerja Obat: 
Amoksisilin merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas anti bakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen. 
Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilin adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis. 
Amoksisilin kurang efektif terhadap spesias Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase. 

Posologi: 
Dosis amoksisilin disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi. 
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg: 20 - 40 mm/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis. 
Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 - 500 mg sehari, sebelum makan. 
Gonore yang tidak terkompilasi: amoksisilin 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal. 

Efek Samping: 
Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit, pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis. 

Interkasi Obat: 
Probenesid memperlambat ekskresi amoksisilin. 

Cara Penyimpanan: 
Simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering. 

Peringatan dan Perhatian: 
Pasien yang alergi terhadap sefalosporin mengakibatkan terjadinya "cross allergenicity" (alergi silang). 
Penggunaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi (biasanya disebabkan: Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida), terutama pada saluran gastrointestinal. 
Hati-hati pemberia pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada bayi. 

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

RANITIDINE 150 mg


Indikasi:
- Tukak lambung dan usus 12 jari
- Hipersekresi patologik sehubungan dengan sindrom Zollinger-Ellison"

Kontra Indikasi:
- Penderita gangguan fungsi ginjal
- wanita hamil dan menyusui


Komposisi :
- Tiap tablet salut selaput mengandung:
Ranitidine hidroklorida setara dengan ranitidine basa 150 mg.

Farmakologi :
Ranitidine menghambat kerja histamin pada reseptor-H2 secara kompotitif, serta menghambat sekresi asam lambung.

Dosis :
- Dosis yang biasa digunakan adalah 150mg, 2 kali sehari
- Dosis penunjang dapat diberikan 150mg pada malam hari
- Untuk sindrom Zollinger-Ellison : 150mg, 3 kali sehari, dosis dapat bertambah menjadi 900mg.
- Dosis pada gangguan fungsi ginjal:
Bila bersihan kreatinin (50ml/menit): 150mg tiap 24 jam, bila perlu tiap 12 jam.
Karena ranitidine ikut terdialisis, maka waktu pemberian harus disesuaikan sehingga bertepatan dengan akhir hemodialisis.

Efek Samping :
- Efek samping ranitidine adalah berupa diare, nyeri otot, pusing, dan timbul ruam kulit, malaise,nausea.
- Konstipasi
- Penurunan jumlah sel darah putih dan platelet ( pada beberapa penderita ).
- Sedikit peningkatan kadar serum kreatinin ( pada beberapa penderita)
- Beberapa kasus ( jarang ) reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, demam, ruam, urtikaria, eosinofilia.

Peringatan dan Perhatian:
- Dosis harus dikurangi untuk penderita dengan gangguan fungsi ginjal
- Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.
- Keamanan dan keefektifan pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.
- Pengobatan penunjang akan mencegah kambuhnya ulkus tetapi tidak mengubah jalannya penyakit sekalipun pengobatan dihentikan.
- keamanan pada gangguan jangka panjang belum sepenuhnya mapan, maka harus dihentikan untuk secara berkala mengamati penderita yang mendapat pengobatan jangka panjang.

Interaksi Obat :
hasil penelitian terhadap 8 penderita yang diberikan ranitidin menunjukkan perbedaan dengan simetidine, ranitidine tidak menghambat fungsi oksidasi obat pada mikrosom hepar.terhadap 5 penderita normal yang diberikan dosis warfarin harian secara subterapeutik, dengan penambahan dosis ranitidine menjadi 200mg, 2 kali sehari selama 14 hari tidak menunjukkan adanya perubahan pada waktu protrombin atau pada konsentrasi warfarin plasma.

ADALAT OROS

Indikasi:
Pengobatan hipertensi 
Pengobatan penyakit jantung koroner: 
- angina pektoris stabil kronik (angina of effort) 
- angina pektoris paska infark (kecuali 8 hari pertama paska infark miokardium akut).

Kontra Indikasi:
Adalat OROS tidak boleh diberikan pada kasus hipersensitivitas terhadap nifedipine atau penyekat kanal kalsium golongan dihidropiridin. Nifedipine tidak boleh diberikan pada kasus syok kardiovaskuler. Adalat OROS tidak boleh diberikan dalam 8 hari pertama infark miokardium akut. Nifedipine tidak boleh diberikan bersama rifampisin karena kadar plasma nifedipine yang efisien tidak akan tercapai akibat induksi enzim. Adalat OROS tidak boleh diberikan pada pasien "kock pouch" (ileostomi paska protokolektomi). Nifedipine dikontraindikasikan selama kehamilan dan menyusui. 

Komposisi: 
Nifedipine tablet lepas lambat, 1 tablet mengandung nifedipine 20 mg, 30 mg 60 mg.

Dosis: 
Pada umumnya terapi dimulai dengan 30 mg satu kali sehari. Dosis awal 20 mg satu kali sehari dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis. Tergantung beratnya penyakit dan respons pasien dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 60 mg satu kali sehari.

Peringatan Khusus dan Perhatian: 
Pemberian harus dilakukan secara hati-hati pada pasien dengan tekanan darah sangat rendah (hipotensi berat dengan tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg), pada kasus gagal jantung simtomatik dan pada kasus stenosis aorta berat, penyempitan gastrointestinal berat, gangguan fungsi hepar, kasus spasme koroner, ancaman serangan angina, kasus krisis hipertensi akut, kasus cadangan jantung yang buruk. 

Interaksi: 
b-reseptor bloker, obat-obat yang menghambat sistem sitokrom P-450 3A4, digoksin, kuinidin, simetidin, rifampisin, diltiazem, jus grapefruit, cisapride, fenitoin, eritromisin, ketokenazol, itrakonazol, flukonazol, karbamazepin, fenobarbiton, asam valproik.

Efek yang Tidak Diinginkan: 
astenia, edema, sakit kepala, palpitasi, vasodilatasi, konstipasi, pening